Everything in its right place (?)

Standard

Duluuuu saya sempat berpikir, selama periode menanti kehadiran seorang anak,

“Saya yang sangat amat menginginkan, yang berikhtiar dengan berbagai cara, kenapa tak kunjung dikabulkan pintanya?

Kenapa mereka, yang rasanya belum siap, bahkan untuk hamil pun, sudah dianugerahi?”

Dan terngiang sebuah firmanNya kepada para malaikat,

“Sungguh, Aku lebih mengetahui”

***

Dan malam ini aku terisak pada suami,

“Kenapa harus aku yang jadi Ibu Afiqa? Kenapa bukan orang lain yang lebih sabar dari aku?”

***

Kata Radiohead “Everything in its right place”.

Sungguh kah?

Ah, tapi Tuhan tak pernah salah kan?Mungkin benar bahwa Afiqa dihadirkan, untuk mendidikku. Untuk menumbuhkanku. Dengan keras. 

Afiqa in her right place: 

A guru.

Advertisements

Sebuah Catatan yang Hilang

Standard

Apakah romantisme seorang pujangga dapat diaplikasikan dalam rumah tangga?

Apakah seorang sastrawan pencipta kisah asmara mampu menghangatkan pasangannya senantiasa?
Semoga tidak.

 
Tuban.

Mencari catatan yang hilang.

05.44

Standard

Hidup tak berkah tak melulu tentang memiliki banyak uang tapi tak merasa cukup.

Hidup tak berkah adalah yang menggiringmu menjauh pada penciptamu.

Sama sekali tak berkah.

Gagal Istiqomah.

Standard

Mmm.. Kayaknya blog ini lamalama berisi curhatan saya selama menempuh proses menjadi sufi (((SUFI))) ya?

Aha, jangan ketawa di bagian sufinya ya, wong nulisnya aja geli sendiri. Sufa sufi, wong ngeliat mie ayam aja langsung santap ngga bisa mikir panjang.

Hiks.

Oke, kali ini apa yang mau dicurhatin?

Ga gal is ti qo mah!

Yeeess, terlebih istiqomah dalam kebaikan yaaa. Kalau dalam keburukan sih kayaknya gampang banget. Ish.

***

Maunya sholat tepat waktu, eeeehhhh kemudian ada saatnya males, trus sholat mendekati waktu sholat selanjutnya. Alasannya.. Sibuk! Sibuk sama dunia.

Bahkaaaan saat mau ajeg make koskaki kemana mana eeehhh bisa gitu mikirnya gapapa sih, Indomaret kan deket. Lha ngana pikir aurat dipatok berdasar jaraaak? Bzzzz.

Dan lainnya. Dan lainnya.

Ah. Yang sesepele itu aja ga bisa menuhin, trus saya minta masuk surga sama siapa? 

Mark Zuckerberg?

Sampah sekalih!

Standard

Saya sedang di titik (yang berkalikali hadir) dimana saya merasa, hidup saya sampah sekalih!

Scrolling. Posting. Terus menerus. Kemudian menyadari, saya sama seperti mereka. Nganggur, atau lebih buruknya, seeking attention.

Sampah sekali. Tak bermutu sekalih!

Karena hidup, sesungguhnya lebih dari ini. Tentang tunduk. Tentang mengingat. Tentang menjadi tak terlihat. Tentang menjadi bermanfaat. Tentang menjadi bijak. Tentang menjadi tenang.

Bukan riuh.

Aaaaaah.. *sigh*

Ya Arhamar Rahimin..

Standard

Menjelang subuh. Masjid sebelah mulai melantunkan pujian itu.

“Ya Arhamar Rahimin.. Irhamna..”

Ada sesuatu di pelosok hati ini yang terketuk. Terasa sedih, rindu.. Ntah. Lalu penasaran. Ya, saya si minim ilmu ini mulai penasaran apa makna kalimat itu. Yang saya duga, pasti berkaitan dengan sifat sayangNya. Ar Rahim.

“Wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, sayangi hamba..”

Tumpah tangis.

Sang Maha Penyayang.

Maha Penyayang.

Ntah sifat yang itu saaaangat saya puja. Atas segala kebaikan, petunjuk dan pertolongan yang diberikan selama ini pada kehidupan saya..
Ya Arhamar Rahimin..
04.00. Menangis kencang. Bersiap menemuiNya.

Ini tulisan Mbak Anita Ningrum.

Standard

Sengaja kusimpan di sini, untuk pengingat diri, dan sejujurnya, ingin kuhadiahkan pada Afiqa, karena mungkin kelak dia membutuhkannya.

Tulisan ini indah. Mengetuk kembali kenangan lama. Syukur yang lalu. Ikhlas yang dulu.

Sumber asli sila klik status Anita Ningrum.

***

“Ikhlas itu ibarat semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang kelam.”

Begitu biasanya guru ngaji saya membuka materi tentang ikhlas. Bertahun-tahun lampau ketika saya baru berkenalan dengan Islam. Saya masih sangat muda. Gak terlalu paham juga apa maksudnya.

Saya cuma paham, ikhlas itu–katanya–sulit.

Sulit dilakukan dan sulit dideteksi.

* * *

Medio Februari 2012.

“Gue gak banyak amal, tapi kalau Allah minta gue pulang, bismillah,” ucap saya kala itu.

“Lo harus berjuang. Ingat anak-anak lo. Keluarga lo,” timpal seorang teman di hadapan saya.

“Ada Allah yang jamin. Mereka akan dapat pengganti ibu mereka, pasti.”

“Ikhlas itu gak begitu..” ujarnya gemas.

Teman lain menengahi.

Mengingatkan bahwa perjalanan ikhlas dan pengertian tiap orang akannya bisa jadi berbeda. Gak bisa disamakan.

Keduanya menatap saya (mungkin) iba.

Saya yang hobinya pecicilan ke sana kemari hari itu menjelma perempuan bertubuh mungil yang berdiri saja butuh berpegangan pada apapun yang ada di sekitar. Sekian obat-obatan untuk syaraf membuat saya kehilangan keseimbangan. Mudah limbung.

Dan mendengar perkataan saya barusan mungkin membuat mereka berpikir: saya kurang berjuang.

Ah, kawan…

Saya sudah berjuang.

Sejak awal perjalanan menuju IGD. Sejak memasuki ruang CT Scan yang menyeramkan. Sejak diagnosis awal dibacakan bersama hasil CT Scan tersebut.

Saya sudah berjuang.

Dengan mengikuti apapun saran dokter: bedrest, obat, tes demi tes hingga menelusur kemungkinan operasi.

Saya sudah berjuang.

Tapi jika kemudian restu untuk operasi membongkar tengkorak kepala yang chance-nya 50:50 itu tidak juga saya dapatkan dari keluarga, bagaimana? Padahal bisa jadi itu satu-satunya solusi.

Faktor risiko, peluang, biaya, dan hal-hal lain yang tidak memungkinkan operasi terlaksana.

Maka sekarang waktunya saya ikhlas, bukan?

Saya sudah mengikhlaskan berbagai diagnosis yang disebutkan para dokter sebagai bagian dari hidup saya hingga saya menjalani berbagai terapi atasnya.

Sekarang saatnya ikhlas dengan kenyataan bahwa saya memiliki hanya sekian alternatif penyembuhan yang memungkinkan.

Saya berserah.

Apapun hasil akhirnya, setidaknya saya tahu saya sudah berjuang. Saya ridho, apapun akhirnya.
(Sudah) Ikhlaskah saya?

* * *

Ikhlas, apakah seperti kisah Hajar?

Hajar protes. Mengapa suaminya begitu tega meninggalkannya dan anaknya yang masih bayi di tengah gurun, berdua saja.

Perintah Sarah yang cemburu kah?

Namun demi dilihatnya suaminya menganggukkan kepala kala ditanya: apakah ini perintah Tuhanmu?

Maka Hajar berseru:

“Pergilah. Allah yang akan menjaga kami.”

Berat namun tetap dijalani.

Khawatir tapi tetap ditapaki.

Dan jika di tengah kekalutannya menyaksikan bayinya yang kehausan sementara air susunya pun taklagi keluar dan lelahnya kaki menempuh jarak-jarak antara Safa dan Marwa sekian kali, Allah kemudian menghadiahi sumber air di tempat yang justru tak terduga, begitukah perjalanan ikhlas selayaknya sebermula?

*

Ikhlas, apakah seperti kisah Sarah?

“Menikahlah dengannya,” ujarnya menyebut nama seorang sahaya.

Suaminya yang ragu begitu mencintainya. Namun keinginannya untuk memiliki keturunan pun tak pernah henti dipanjatkan.

“Menikahlah dengannya.”

Sebuah pinta.

Sarah yang cantik yang mampu menarik hati seorang raja yang zalim.

Sarah yang sejak menikah dengannya Ibrahim menjadi begitu berkecukupan.

Sarah yang taat.

Sarah yang takkunjung memberi Ibrahim seorang anak.

Cemburu, namun tetap juga ia berbakti.

Maka manakala Allah memberikan mereka Ishaq setelah penantian begitu lama, begitukan perjalanan ikhlas bermakna?

*

Ikhlas, apakah seperti kisah Ibrahim dan Ismail?

Bilah tajam dan seorang anak yang begitu dinantikan.

“Lakukanlah, Ayah.”

Apalah lagi yang akan keluar dari ucap seorang anak yang dibesarkan dengan tauhid dan ketaatan melainkan sebuah penghambaan tak berkesudahan.

Dan sejatinya nabi yang tetaplah manusia tentu tetap berderap hatinya jika diminta menyembelih anaknya sendiri.

Oh, anak yang kurindukan puluhan tahun.

Oh, anak yang sempat kutinggalkan di tengah gurun.

Haruskan berakhir dengan tebasan ayahmu sendiri?

Maka ketika kemudian Allah gantikan posisi Ismail dengan hewan sembelihan yang besar, begitukah perjalanan ikhlas seharusnya pada akhirnya?

* * *

Ikhlas, katanya juga seperti layaknya surat Al-Ikhlas.

Tak pernah terlihat ada.

Ikhlas, katanya juga tak pernah mampu kita rasakan sendiri. Tak pernah bisa kita bersengaja pahami.

Ia milik Allah. Ia rahasia Allah.

Maka perjalanannya tidak akan pernah sama dalam setiap diri.

Pemaknaannya tak akan pernah punya definisi.

Seorang teman menantikan kehadiran buah hati bertahun-tahun. Mengupayakan sana-sini. Persis di tahun yang sama ketika ia memasrahi, menghentikan berbagai terapi, menjalani hari penuh ringan hati dengan tetap menyimpan mimpi: kelak bisa dikaruniai buah hati, Allah memberi dua strip di tes kehamilannya.

Seorang sahabat tergugu-gugu ketika suaminya memilih pergi. Ia yang begitu mencintai.

Sedih, marah, penyesalan kemudian ia lewati.

Persis di waktu yang sama ia meresapi bahwa semua terjadi atas takdirnya sendiri-sendiri, suaminya kembali. Mencintainya lebih lagi. Lupakan luka, ia sudah tertinggal di dalam peti.

Saya pernah begitu ingin punya sebuah flashdisk OTG. Flashdisk yang bisa langsung ditancapkan di ponsel. Namun mengingat harga dan banyaknya flashdisk konvensional pemberian kantor yang masih saya punya, saya endapkan keinginan itu dalam-dalam.

Siapa sangka, saya justru mendapatkannya gratis dalam sebuah seminar. Seminggu setelah saya menatapi flashdisk OTG milik teman saya itu. Gratis.

Begitukah ikhlas?

Entahlah.
Anita Ningrum

*catatan Iduladha