Ini tulisan Mbak Anita Ningrum.

Standard

Sengaja kusimpan di sini, untuk pengingat diri, dan sejujurnya, ingin kuhadiahkan pada Afiqa, karena mungkin kelak dia membutuhkannya.

Tulisan ini indah. Mengetuk kembali kenangan lama. Syukur yang lalu. Ikhlas yang dulu.

Sumber asli sila klik status Anita Ningrum.

***

“Ikhlas itu ibarat semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang kelam.”

Begitu biasanya guru ngaji saya membuka materi tentang ikhlas. Bertahun-tahun lampau ketika saya baru berkenalan dengan Islam. Saya masih sangat muda. Gak terlalu paham juga apa maksudnya.

Saya cuma paham, ikhlas itu–katanya–sulit.

Sulit dilakukan dan sulit dideteksi.

* * *

Medio Februari 2012.

“Gue gak banyak amal, tapi kalau Allah minta gue pulang, bismillah,” ucap saya kala itu.

“Lo harus berjuang. Ingat anak-anak lo. Keluarga lo,” timpal seorang teman di hadapan saya.

“Ada Allah yang jamin. Mereka akan dapat pengganti ibu mereka, pasti.”

“Ikhlas itu gak begitu..” ujarnya gemas.

Teman lain menengahi.

Mengingatkan bahwa perjalanan ikhlas dan pengertian tiap orang akannya bisa jadi berbeda. Gak bisa disamakan.

Keduanya menatap saya (mungkin) iba.

Saya yang hobinya pecicilan ke sana kemari hari itu menjelma perempuan bertubuh mungil yang berdiri saja butuh berpegangan pada apapun yang ada di sekitar. Sekian obat-obatan untuk syaraf membuat saya kehilangan keseimbangan. Mudah limbung.

Dan mendengar perkataan saya barusan mungkin membuat mereka berpikir: saya kurang berjuang.

Ah, kawan…

Saya sudah berjuang.

Sejak awal perjalanan menuju IGD. Sejak memasuki ruang CT Scan yang menyeramkan. Sejak diagnosis awal dibacakan bersama hasil CT Scan tersebut.

Saya sudah berjuang.

Dengan mengikuti apapun saran dokter: bedrest, obat, tes demi tes hingga menelusur kemungkinan operasi.

Saya sudah berjuang.

Tapi jika kemudian restu untuk operasi membongkar tengkorak kepala yang chance-nya 50:50 itu tidak juga saya dapatkan dari keluarga, bagaimana? Padahal bisa jadi itu satu-satunya solusi.

Faktor risiko, peluang, biaya, dan hal-hal lain yang tidak memungkinkan operasi terlaksana.

Maka sekarang waktunya saya ikhlas, bukan?

Saya sudah mengikhlaskan berbagai diagnosis yang disebutkan para dokter sebagai bagian dari hidup saya hingga saya menjalani berbagai terapi atasnya.

Sekarang saatnya ikhlas dengan kenyataan bahwa saya memiliki hanya sekian alternatif penyembuhan yang memungkinkan.

Saya berserah.

Apapun hasil akhirnya, setidaknya saya tahu saya sudah berjuang. Saya ridho, apapun akhirnya.
(Sudah) Ikhlaskah saya?

* * *

Ikhlas, apakah seperti kisah Hajar?

Hajar protes. Mengapa suaminya begitu tega meninggalkannya dan anaknya yang masih bayi di tengah gurun, berdua saja.

Perintah Sarah yang cemburu kah?

Namun demi dilihatnya suaminya menganggukkan kepala kala ditanya: apakah ini perintah Tuhanmu?

Maka Hajar berseru:

“Pergilah. Allah yang akan menjaga kami.”

Berat namun tetap dijalani.

Khawatir tapi tetap ditapaki.

Dan jika di tengah kekalutannya menyaksikan bayinya yang kehausan sementara air susunya pun taklagi keluar dan lelahnya kaki menempuh jarak-jarak antara Safa dan Marwa sekian kali, Allah kemudian menghadiahi sumber air di tempat yang justru tak terduga, begitukah perjalanan ikhlas selayaknya sebermula?

*

Ikhlas, apakah seperti kisah Sarah?

“Menikahlah dengannya,” ujarnya menyebut nama seorang sahaya.

Suaminya yang ragu begitu mencintainya. Namun keinginannya untuk memiliki keturunan pun tak pernah henti dipanjatkan.

“Menikahlah dengannya.”

Sebuah pinta.

Sarah yang cantik yang mampu menarik hati seorang raja yang zalim.

Sarah yang sejak menikah dengannya Ibrahim menjadi begitu berkecukupan.

Sarah yang taat.

Sarah yang takkunjung memberi Ibrahim seorang anak.

Cemburu, namun tetap juga ia berbakti.

Maka manakala Allah memberikan mereka Ishaq setelah penantian begitu lama, begitukan perjalanan ikhlas bermakna?

*

Ikhlas, apakah seperti kisah Ibrahim dan Ismail?

Bilah tajam dan seorang anak yang begitu dinantikan.

“Lakukanlah, Ayah.”

Apalah lagi yang akan keluar dari ucap seorang anak yang dibesarkan dengan tauhid dan ketaatan melainkan sebuah penghambaan tak berkesudahan.

Dan sejatinya nabi yang tetaplah manusia tentu tetap berderap hatinya jika diminta menyembelih anaknya sendiri.

Oh, anak yang kurindukan puluhan tahun.

Oh, anak yang sempat kutinggalkan di tengah gurun.

Haruskan berakhir dengan tebasan ayahmu sendiri?

Maka ketika kemudian Allah gantikan posisi Ismail dengan hewan sembelihan yang besar, begitukah perjalanan ikhlas seharusnya pada akhirnya?

* * *

Ikhlas, katanya juga seperti layaknya surat Al-Ikhlas.

Tak pernah terlihat ada.

Ikhlas, katanya juga tak pernah mampu kita rasakan sendiri. Tak pernah bisa kita bersengaja pahami.

Ia milik Allah. Ia rahasia Allah.

Maka perjalanannya tidak akan pernah sama dalam setiap diri.

Pemaknaannya tak akan pernah punya definisi.

Seorang teman menantikan kehadiran buah hati bertahun-tahun. Mengupayakan sana-sini. Persis di tahun yang sama ketika ia memasrahi, menghentikan berbagai terapi, menjalani hari penuh ringan hati dengan tetap menyimpan mimpi: kelak bisa dikaruniai buah hati, Allah memberi dua strip di tes kehamilannya.

Seorang sahabat tergugu-gugu ketika suaminya memilih pergi. Ia yang begitu mencintai.

Sedih, marah, penyesalan kemudian ia lewati.

Persis di waktu yang sama ia meresapi bahwa semua terjadi atas takdirnya sendiri-sendiri, suaminya kembali. Mencintainya lebih lagi. Lupakan luka, ia sudah tertinggal di dalam peti.

Saya pernah begitu ingin punya sebuah flashdisk OTG. Flashdisk yang bisa langsung ditancapkan di ponsel. Namun mengingat harga dan banyaknya flashdisk konvensional pemberian kantor yang masih saya punya, saya endapkan keinginan itu dalam-dalam.

Siapa sangka, saya justru mendapatkannya gratis dalam sebuah seminar. Seminggu setelah saya menatapi flashdisk OTG milik teman saya itu. Gratis.

Begitukah ikhlas?

Entahlah.
Anita Ningrum

*catatan Iduladha

Advertisements

Goals.

Standard

Tulisan ini tidak akan membahas hal – hal yang receh semacam #relationshipgoals atau #friendshipgoals yang didengungkan mereka – mereka itu.
Tidak.

Kali ini, setelah proses renung yang diawali dengan ghibah penuh dosa dulu, saya menyadari,

Bahwa ternyata tujuan hidup sebenarnya adalah setelah hidup itu sendiri. Afterlife. Akhirat.

Ah.

Saya kini tengah malu. Pun sedih. Akan iman yang masih di situ saja. Tak maju – maju.

Pun menyadari, sesungguhnya kalau segala sesuatu ditargetkan untuk afterlife, hidup sejatinya akan terasa lebih lapang.

Akan ada hati yang lebih sabar.

Lebih ikhlas.

Lebih teguh.

Lebih percaya.

Lebih lembut.

Lebih.. Baik.

Ah Allah, Rabb lil alamin. Teguhkan hamba pada kebaikan. Sucikan hati hamba. Luruskan niat hamba. Dan jadikan hamba, menjadi pribadi yang lebih baik.

Asing

Standard

Mereka sang pemilik pemikiran hebat, ide liar, biasanya berakhir terasing

Pun mereka yang mencapai level ruhiyah tak ternalar, pada akhirnya mendapati dirinya terasing
Tidak oleh manusia, tapi dunia

Bukankah tujuan akhir setiap manusia, adalah menjadi terasing?

Dan coba bedakan rasanya

Dengan segala riuh palsu, yang menjadikanmu asing

Dengan dirimu sendiri.

Setia

Standard

Kalau kamu setia sama Gusti Allah, maka akan diberi kelimpahan – kelimpahan dalam hidupmu.

– Cak Nun

Lagi – lagi, jiwa yang gelisah dan tersesat ini terganggu. Ada begitu banyak petunjuk, yang terbaca. Tapi,
Sebegini sulitkah untuk menjadi setia?

Standard

Maka bersamai aku

Dalam perjalanan yang kita tak tahu dimana ujungnya

Dan

Sesekali mari menepi

Mencari Indomaret terdekat

Atau masjid, untuk melabur penat

Menjadi Asing

Standard

Dunia itu bising

Keramaian

Kesibukan

Gelak tawa

Hingar bingar

Terus menerus

Tak berjeda

Terus menerus

Hingga lupa

Lupa akan tujuan utama

Yang hening

Senyap

Tanpa terlelap

Pada rintih

Do’a do’a yang khusyu’

Hingga kemudian, terasing.