Pentingnya Cari Dokter Obgyn yang Pas di Hati

Standard

Duh, judulnya.
Hihihi.

Tapi emang betul lho, bumil harus bisa nemuin dokter Obgyn yang pas dan sreg di hatinya. Eh tunggu, uda pada tau kan kalo dokter Obgyn itu nama ilmiahnya dokter kandungan? Yup, biasanya di belakang nama mereka ada gelar SpOG nya. Sekedar info tambahan, Obgyn itu berasal dari 2 hal, yaitu Ob, bentuk pendek dari Obstetri ataupun pakarnya yang disebut Obstetrician, yaitu orang yang membantu proses kelahiran.  Sedangkan, GYN adalah kependekan dari gynecology atau pakarnya yang disebut gynecologist, yaitu dia yang ahli menangani penyakit yang berhubungan dengan organ reproduktif wanita. So, intinya para dokter spesialis kandungan itu ya ahli di kedua bidang tersebut.

Nah, karena ahli di kedua bidang tersebut, sudah pasti mereka juga bakalan ahli menangani ibu – ibu hamil. Iya lah, yang namanya dokter spesialis ya pasti bakalan ahli dan paham banget sama bidang ilmunya. Tapi apakah dengan paham dengan bidang Ob/Gyn mereka semua layak untuk dipilih? Kalau aku sih nggak berpendapat demikian.

Ada banyak faktor yang mesti jadi pertimbangan para ibu hamil (dan kemungkinan juga suaminya, karena suamiku juga perhatian masalah dokter mana yang pas buatku). Apalagi, dari sudut pandangku sebagai seorang bumil, aku tau banget bahwa ibu hamil mana pun pasti ingin yang terbaik buat anak yang dikandungnya. Jadi nggak heran kalo kemudian menjadi begitu selektif. Nah, jadi.. Faktor apa saja itu?
(Di sini aku nggak bicara sebagai ahlinya ya, tapi cuma untuk berbagai opini dan pengalaman aja.)

1. Dokter cewek atau cowok? Yaah sebenernya nggak penting – penting amat lah ya masa lah gender. Tapi sebagian besar sih bakalan lebih nyaman sama dokter cewek, ya kan? Apalagi kalau seorang muslimah, mikirnya pasti aurat. Hehehe.
2. Informatif. Nggak enak banget kan kalau dapet dokter yang males banget jelasin ini – itu. Asal bilang anaknya sehat, uda. Bilang kandungan bermasalah, uda. Tipe yang males ngomong banyak. Apalagi kalau ada tipe yang males jawab. Eeewwh. Keluar dari ruang konsul dan masih nyimpen banyak tanya tuh rugi!
3. Kepribadian. Enak itu kalau dapat dokter yang tenang, bisa ngehargai kita sebagai bumil, yang.. enak lah pokoknya kalau kita konsultasi. Kan ada tuh dokter yang kadang suka menghina; pengalaman baca di forum bumil, ada gitu dokter yang terang – terangan ngatain gendut. Atau yang bukannya bikin kita tenang pas sakit, malah bilang yang serem semacam ntar anaknya bisa meninggal lho. Hih. Atau yang sinis banget, kalau nggak gitu, songong. Ada. Namanya orang ya, macem – macem. Kalo uda gini, biasanya hati yang ngaruh, ntah sedih, marah, sebel, sakit hati. Udaaa, nggak usah diterusin. 😁
4. Pro normal. Menurutku sih ini termasuk pertimbangan penting untuk milih dokter. Kenapa? Yaa karena si dokter tersebut akan mengusahakan gimana caranya biar bisa normal. Baru kalau nggak memungkinkan, dirujuk buat Caesar. Soalnya ada beberapa dokter yang dikit – dikit uda ngerujuk Caesar aja. Ada pengalaman seorang bumil, dalam kasus mata minus tinggi, kalau dokter yang pro normal nih dia akan ngerujuk buat cek kondisi retina mata dulu ya, nah kalau dokter yang nggak pro banget bisa aja langsung mutusin, “ah, ini sih harus operasi Caesar, bu.” Hmmm.
5. Pro IMD. Inisiasi Menyusui Dini. Maksudnya adalah dimana setelah dilahirkan bayi segera dipeluk oleh ibunya untuk menemukan puting susu ibunya. Dengan ini diharapkan menjadi awal proses pemberian ASI untuk 2 tahun ke depan, karena IMD mampu menstimulus lancarnya keluarnya ASI dan juga membuat bayi terbiasa dengan puting ibunya.
Tapi kalau diamati, rasanya nggak semua bumil mempertimbangkan hal ini. Ntah karena kurangnya pengetahuan akan pentingnya ASI atau tidak mempermasalahkan antara ASI dan susu formula (tentang bedanya, silakan dipelajari sendiri ya). Tapi bagi yang sudah tahu tentang IMD, ada baiknya mencari tahu apakah dokter kandungan pilihannya Pro IMD atau nggak. Karena ada beberapa dokter yang saat bayinya lahir, dia pun tanpa ijin ibunya memberikan susu formula pada sang bayi. Katanya sih efeknya sang bayi akan kesulitan mengenali puting ibunya karena mulutnya sudah terlebih dahulu mencicipi dot susu. Nah kan. Lebih cermat lagi ya para bumils. 😉

Setelah itu apa lagi ya? Sementara itu aja kali ya, belum kepikiran yang lain. Ntar deh mungkin kalau ada tambahan aku edit lagi postingannya. Hehehe.

Selanjutnya, sekedar sharing pengalaman aja, selama kehamilan aku pribadi sih uda nyobain 4 dokter Obgyn, hehehe. Kan aku awal tahu kalau lagi hamil kan di Malang, padahal saat itu uda ngikut suami di Tuban. Jadi pas hamil muda, dari sebelum tau hamil sih, uda langganan sama dr. Maria Ulfa, SpOG. di Malang. Orangnya enak, ramah, ceria juga. Selama beberapa konsultasi dan baca beberapa percakapan bumil, dia juga termasuk yang pro normal dan IMD juga. Tapi pada akhirnya aku mutusin buat ganti dokter. Soalnya dia kurang informatif. Bukannya kurang karena kehendaknya sih, soalnya ada saat dimana dia informatif banget. Itu semua karena pasiennya bejibun! Jadinya dia cepet – cepet ngejelasinnya. Kalau tahu sang bayi dan ibunya baik – baik aja, yauda, konsultasi selesai. Padahal, secara ini kehamilan pertama, wajar kan kalau aku haus informasi tentang anakku?
Itu lah plus minus dokter Obgyn pertamaku. Etapi, gimana pun, di usiaku yang menginjak 32 minggu lebih ini, sometimes I miss her. 😥 Dia lah yang tahu sejarah proses perjuanganku dan suami. Dia pula yang berseru, “Lho, anda hamil gini lho. Selamat ya!” Hiks.

Selanjutnya, pas uda pindah ke Tuban, sebenernya masih sering konsultasi ke Malang sih, hehe. Belum ada niatan buat nyoba dokter kandungan Tuban. Konsultasinya pun dibarengin sama waktu kunjungan ke ortu di Malang. Tapi kemudian, kapan itu, akunya sakit demam, yang ternyata setelah opname 5 hari an diketahui ternyata gejala tipes. Nah itu pertama kalinya aku nyobain dokter Obgyn Tuban. Soalnya kalau ke Malang, byuhh perjalanannya aja uda jauh banget. Apalagi pas itu demam tinggi. Akhirnya ambil dokter Obgyn terdekat dari rumah. Lah, adanya cowok. Yauda deh, gapapa. Secara pas itu kondisinya darurat banget. Kasian sama adek bayi dalam perut juga. Nah pengalaman sama dokter ini yang agak ngeselin. Orangnya songong, nyebelin. Kayak angkuh gitu. Uda gitu nakut – nakutin lagi. Ceritanya kan pas itu bilang kalau uda demam tinggi, eh dia langsung nyuruh buat opname, kalau nggak janinnya meninggal. Apadeh! 😤 Setelah ngobrol sama beberapa saudara, ternyata beliau tipe yang nggak pro normal, dikit – dikit Caesar. Dan emang terkenal orangnya nggak enak, hmmm.

Trus di Tuban nyoba lagi sama yang rasanya dia the only one dokter cewek namanya dr. Vera, lumayan sih orangnya. Sabar, baik, informatif. Pantesan pasiennya banyak. Tapi suami a lil bit protes, katanya bu dokternya cuma ngobrol sama bumilnya, nggak terlalu ngeliat kehadiran suaminya, hihihi.

Selanjutnya, dokter pilihan terakhirku, dr. Novina, SpOG. di Malang. Awalnya dapet rekomendasi dari temen suami. Pas dicoba, ya enak aja sih, hampir sama kayak dr. Maria Ulfa, cuma dia lebih detil ngejelasin tentang bayi kita. Ukuran tangannya, kepalanya, tulang punggungnya, kelaminnya, jari – jarinya. Gitu deh. Maka, apakah finally dia yang pas di hati? I wouldn’t say that, but perhaps she is the best for us. Soalnya aku uda terlanjur jatuh cinta sama wajah ceria dr. Maria Ulfa, hehehe. Tapi yaahh semoga saja beliau mampu menemaniku dengan baik sampai proses persalinan.. Amin.

Sekian tulisan kali ini. Semoga ada sesuatu yang bermanfaat yang bisa diambil yaa. ❤❤❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s