Alergi Afiqa

Standard

Saat saya menulis ini, saya sedang merasa letih mengurus anak yang paling tersayang, beserta segala urusan rumah tangga. Pun sedikit sedih, dengan kepala yang dipenuhi kata alergi.

My little baby Afiqa ternyata adalah seorang anak yang diberi kelebihan peka terhadap beberapa makanan. Iya, Afiqa alergi makanan.

Alergi apa?
Banyak. Susu sapi. Hewan laut. Ayam. Telur. Ikan tawar. Sedikit alergi kacang.
Lah, terus makan apa?
Alhamdulillah boleh makan daging sapi. Sayuran. Buah.
Serius itu aja?
It means a lot for us.

*senyum sedih* *senyum lelah*

Apakah ini biasa menurutmu? Karena tidak bagiku. Saya masih egois. Saya saaangat rindu makan apa yang tidak bisa Afiqa makan. Kadang saya marah. Sedih. Mau makan ini itu nggak bisa. Dan di saat itu, saya menerobos batas. Kemudian jadi berlipaaaat sedih nya.
Kenapa?
Afiqa akan muntah. Garuk – garuk kepala. Gatel. Sedih liatnya. Sedih. Kalau uda gitu, saya selalu mikir “trus Afiqa gimana bisa cerdas kalau makanannya ini aja?” Sedihnya nambah.

Kenapa nggak dilanggar aja batasnya? Gatelnya banget? Daripada nggak dapet nutrisi hewani? Ntar juga sembuh sendiri kan?

Jadi sebenernya beredar 2 teori, untuk nyembuhin alergi makanan pada bayi.
1. Makan aja! Ntar badan bayi juga kebal sendiri, which is teori yang salah! Pembenarannya ada di teori ke 2.
2. Hindari makanan yang memberi dampak alergi. Kok gitu? Jadi gini, efek alergi itu terjadi karena sistem imun kita kaget ada zat asing (misal dari susu sapi, udang, dll.) yang dateng. Nah, itulah kenapa si ibu menyusui ini harus puasa makan apa yang berdampak buruk pada bayinya. Penjelasan gampangnya, pake perumpamaan ya, gini:
Jadi, suatu kali Udang bertamu ke badanku, Tim Imun yang nggak suka Udang ini kaget, nggak siap apa – apa. Efeknya gatal lah anakku. Trus besok kalo Udang dateng lagi terus menerus, gimana bisa Tim Imun nyiapin pertahan diri? Persiapannya aja lama. Makanyaaaa si Udang ga boleh bertamu dulu, biar Tim Imun siap – siap gimana cara menghadapi Udang kelak. Nah kalau uda siap, efek kedatangan Udang pun perlahan – lahan ilang, ya nggak? Insya Allah.

Jadi gitu. Itulah kenapa saya kudu puasa makanan pencetus alergi.

Tapi nduk Afiqa, Allah Maha Baik..

Meski begitu, diam – diam saya bersyukur. Allah menguatkan ikatan antara saya dan Afiqa. Setidaknya dari pihak saya dulu. Karena terkadang saat ingin melanggar batas, tetiba muncul bayangan Afiqa menggaruk kepalanya..

I love you nduk. Cepet sembuh ya alerginya. Biar mimpiku terkabul. Makan es krim sama kamu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s