Pendosa.

Standard

Sebuah pikiran selalu muncul di penghujung hari. Menulisnya untuk dibaca 10 tahun lagi akan selalu menjadi nanti.

Tapi kali ini, ada sesuatu yang membuatku termenung, dengan seorang bayi kecil yang begitu cantiknya tertidur pulas di sebelahku. Bahwa hidup berubah sangat cepat.

Aku masih ingat, mungkin sekitar 3 tahun yang lalu. Aku tercipta dari rasa sedih, amarah, benci, nestapa, duka. Aku terbenam dalam apa yang sekarang ku anggap salah. Aku berteman dengan banyak lelaki. Aku mengumpat dengan berani. Pun pernah pulang pagi.
Jangan salah sangka juga. Tak segila itu. Sholat 5 waktu pun hampir tak pernah bolong. Paling setaun bolong 2 kali. Tapi selalu ada saat, seringnya, bersujud padaNya menjadi hanya gerak raga semata. Tak ada esensi. Tak ada ikatan. Bahkan terlalu lelah untuk meminta. Semuanya hanya mantra yang dirapal saja. Letih. Penat. Begitu.
Indahnya, aku tak seperti kali ini.

Hidupku lebih lurus, begitu mungkin bila dilihat dari segi agama. Apalagi bersuami, seakan Tuhan mengirimkan penyembuh atas segala hinaku. Pengingat segala kebodohanku. Ya, hidupku lebih bersih. Begitu lah kira – kira.
Namun aku mendapat ujian. Kutukan, mungkin. Aku jadi begitu pandai menentukan mana yang benar dan salah. Menghakimi. Mengambil alih kinerja Tuhan. Gila.

Apakah kau juga?
Kupikir, disyukuri saja. Setidaknya, ada sesuatu yang berjalan maju. Bukannya mundur. Dan mencoba, lebih menjadi manusia. Bersifat manusia. Bodoh. Agar terus belajar.

Dan semoga, segera dikumpulkan pada yang lebih, untuk menjadi malu. Karena melihat ke bawah tak selamanya baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s