Cara Memiliki Anak

Standard

Tulisan ini dibuat atas dasar rasa bahagia melihat siapapun yang akhirnya hamil setelah menunggu sekian lama. In this case, mbak N yang telah menunggu.. hampir 5 tahun ya mbak? Maaf kalau salah. Tapi sungguh, sebagai seorang yang telah menunggu dikaruniai momongan hampir (HANYA) setahun, saya selaaalu bahagia, terharu,  bila tau ada siapapun di luar sana yang akhirnya hamil setelah lama menunggu. Cause I know that feeling. Bahagia yang tak terbendung. Rasa sedih telah usai. Penantian berakhir. Alhamdulillah. Begitu. πŸ™‚

Anak. Buah hati. Momongan. Apapun istilahnya adalah hal yang sangat diinginkan sebagian besar pasangan,  ya kan? Begitu pula saya. Dan dalam tulisan ini saya ingin mengulas tentang bagaimana sih cara memiliki anak? 

Jawabannya.. Tanya anak SD jaman sekarang yang hobi ngerokok di perempatan juga tau. πŸ™„ *sarkas* Iya kan? Mau punya anak? Menikah dong! Selanjutnya masa kudu dijelasin.

Itu teorinya. Faktanya? Menikah tidak membuatmu atau menjaminmu memiliki anak baik segera atau ntah kapan. Jadi? Pada beberapa orang, dibutuhkan usaha lebih. Iya,  lebih.

Saya waktu itu sih pada akhirnya berpikir dari segala sisi. Pertama, kesehatan. Saya sempet jadi rajin olahraga dan diet. Tiap minggu jogging di Lapangan Rampal, Malang sama suami. Diet makan kukusan sampeeee turun 2 kg an dalam kurun waktu yang singkat. Hahahaha πŸ˜‚πŸ˜…. Selanjutnya mikir faktor psikologi. Semacam.. Ngoyo banget sih mau hamil sampe kudu diet? Kan kudu bahagia ga boleh setreeesss. Akhirnya wisata kulineran terooosss sama suami. Jalan – jalan pun makin digas. Dari Tuban – Paciran motoran, sampek bikin rencana ke Ranu Kumbolo. Sempet ditegur Om “Jalan – jalan terus! Makanya nggak hamil – hamil.” Bzzzztt ini malah biar cepet hamil kali Om! πŸ™„ Hihihi. Ketiga faktor ibadah. Keimanan. Nah,  ini yang paling maha dahsyat. Kita kurang ibadah kali ya.  Kita kurang sedekah kali ya. Dosa kita banyak kali ya. Kalau pas lagi ngedrop banget..  “Allah, salah saya apaaa?” Padahal salahnya uda tentu banyak lah yaaa. Hadeuhh. Kadang sempet ngocehin suami,  “Sholat jangan diakhirin! Ntar kita dapet anaknya diakhirin juga gimanaa?”

Iya. Sampek segitunya. Belum lagi kisah bolak balik ke dokternya. Belum umrohnya. Berhasil?  Nggak juga. Sempet tersenyum pas nonton drama korea yang mana salah satu tokoh cewek nya bilang,  “Semakin kita meminta anak, semakin Tuhan tak memberi.” Haha. Dalam hati : setuju deh sama kamuu ~
Hingga kemudian saya berada di level terakhir. Pasrah. Malah dapet. (Alhamdulillah!) 

Nah,  balik lagi ke pertanyaan awal. Jadi, bagaimana dong cara punya anak? Nggak ada. Yah tentu saja ada sih,  cara standar dengan berbagai prosedur teknik nasehat dan apapun yang menyertainya. Tapi, dari kasusku aku belajar, sungguh, jangan percaya dengan omongan “Ah anda / kamu nggak bisa punya anak karena bla bla bla.” Lalu bagaimana dengan Maryam? Ibrahim? Zakaria?

Menurutku ini hanya perkara waktu. Kita bisa saja berusaha gila -gilaan, ngerogoh kocek milyaran, nemuin dari dokter sampek dukun kalau Allah bilang belum waktunya, ya belum. Tapi kalau mau ngasih, lihatlah Maryam! Nggak punya suami aja bisa punya anak. 

See? 

Terus waktunya berdasarkan apa? Cuma Allah yang tau. Dan Allah selalu lebih tau. Kita mah apa, amoeba berlumur dosa.

Ikhtiar. Sabar. Tawakkal. Dan lihat surat Maryam πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s