Sudut Pandang yang Lain 

Standard

​Hari ini ngajak jalan – jalan Afiqa lagi keliling komplek. Biasanya sih ini perumahan berasa kayak mati, sepi. Yah, meski nggak tau lagi kalau salah timing. Tapi kali ini beda, aku dan Afiqa mendapat banyak sambutan. 

Setelah nongkrong di teras salah satu tetangga, kita akhirnya ngobrol banyak. Tetiba datang tetangga yang lain, seorang nenek dan cucunya, ikut dalam obrolan. Kemudian, 

“Ah mbak ini lho kapan punya anak? Segera punya anak lah, biar makin harmonis.” Kata si nenek pendatang baru pada mbak di sebelahku. 

Ntah tapi ucapan itu ngagetin saya. Flashback. Nggak nyangka akan mendengar kalimat seperti itu lagi, meski kali ini bukan buatku. An impolite question.

Mbak sebelahku diam aja (kalau ngga salah suami pernah cerita paling sekitar 3 tahunan mbaknya ada di masa penantian). Hanya ibunya yang membela, “Belum dikasih kok, mau gimana lagi ya..” Aku cuma senyum. 

Obrolan pun kemudian masih terus berlangsung pada topik yang lain. Hingga kemudian si nenek pamit pulang. Tetiba mbaknya pindah duduk mendekatiku sambil marah – marah. 

“Mestiiii mbah itu, nanyanya gitu terus! Bisa sampe 6 kali mbak kalau tak itung! Bisanya ngomong tok, nggak tau apa kita uda banyak usaha! Tau nggak mbak, dia itu juga gak punya anak! Itu anaknya, anak ngapek (adopsi)!!” Si mbak tadi dengan penuh emosi cerita ke aku. 

Di sini, aku takjub. Aku padahal nggak pernah ngobrol sama mbaknya tapi dia terbuka banget, karena setelahnya dia nyeritain usaha – usahanya untuk ngedapetin anak. Yang menarik adalah dia bercerita kalau kata dokternya disarankan pemeriksaan dalam yang biayanya kata si mbak sekitar 1,5 juta. Mbaknya nggak mau, katanya takut sakit, takut dokter ‘ngobok – ngobok’ bagian dalamnya. Dia milih ikut KB karena “kata orang – orang bisa mancing punya anak,  mbak”.

Di sini saya mempelajari sudut pandang lain. Bahwa semua tak hanya perkara waktu. Aneh. Kalau memang ingin, kenapa tak diusahakan mengikuti saran dokter?  Kenapa tak mencoba semua cara? Saya ingat suami dulu, setelah ngobrol sama mertua, kalau memang untuk mendapatkan anak harus pake bayi tabung yang puluhan sampai jutaan rupiah, suami siap nabung. Tapi kalau ikhtiar saja pilih – pilih, apakah Allah tetap akan mengabulkan? 
Mungkin tak semua tentang perkara waktu. Mungkin, dan sepertinya.. pasti, bahwa ribuan ikhtiar juga selalu akan diamati. Kemudian diperhitungkan. 

Hehe, nggak nyangka jalan – jalan sore kali ini terasa seru 😁;)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s