Sebuah Cerpen: Menjelang Idul Fitri

Standard

Seperti tahun yang sudah – sudah, Ahmad mendekam di kamarnya setelah Maghrib. Seperti tahun yang sudah-sudah, dia berbaring di tempat tidurnya. Dengan telinga yang dibuntu oleh sepasang earphone, namun matanya terlihat kosong. Sayup terdengar suara musik keluar dari earphonenya. Volume maksimal barang kali. Sedang di luar sana, takbir bersahutan menyambut Idul Fitri besok. Menciptakan suasana yang syahdu.

Seperti tahun yang sudah-sudah bagi Ahmad, namun sejatinya 3 tahun yang lalu tidak begitu. Seperti kebanyakan orang, Ahmad akan berkumpul dengan para sanak keluarganya di malam takbir. Mematut sarung baru mungkin, atau ikut serta meramaikan kampung dengan petasan. Seperti kebanyakan, hingga orang tuanya tak mampu lagi mengirim ongkos pulang dari Jawa menuju Sulawesi. Hanya ucapan rindu, do’a agar selalu senantiasa terlindung dan beberapa foto.

Ahmad membalikkan badannya, kali ini menghadap tembok. Dipejamkan matanya, disertai helaan nafas yang panjang. Sebuah air mata menetes, merayap menuju hidungnya. Ah sayang, kali ini aku tak tahu apa yang ada di batinnya.

Musik di earphonenya masih terdengar sayup.

Tuban, 13 Oktober 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s