Sebuah Cerpen: Menuju Makan Malam

Standard

Imam baru saja pulang lepas sholat isya’ berjama’ah. Dan tak biasanya Lastri, istrinya, menyambut dengan wajah sendu.

“Sudah kuperiksa, dapur tidak ada apa-apa. Makan apa anak kita malam ini?”

Imam menghela nafas, tersenyum. Seharian sudah mencoba ia menemukan rizki, sesuatu yang bisa dihidangkan pada keluarganya malam ini, namun Tuhan masih belum memberi. Bahkan untuk hutangan saja tak satupun dia dapatkan.

“Tenang, Bu.. Pasti nanti ada rezeki. Allah sudah jamin.”

Lastri mendengus. Lagi – lagi bawa nama Allah, rutuknya dalam hati. Hati yang sekarang sedang gelisah, melihat jam makan malam makin mendekat. Sudah hampir satu jam Lastri mendongeng, mengalihkan perhatian dua buah hatinya yang masih kecil itu dari rasa lapar.

“Tenang gimana, Yah? Aku kasihan sama mereka!” Balas Lastri dengan suara bergetar.

Imam menghela nafas lagi, kali ini lebih dalam. Rencana untuk meminta maaf pada anak – anaknya pun semakin kuat. Sedang Lastri terlihat kesal, kemudian masuk kamar dengan membanting pelan pintunya.

Tak lama setelah itu, selang seperempat jam, terdengar ketukan pada pintu rumah mereka. Dengan segera Imam membukanya. Seorang remaja lelaki berdiri tepat di depannya, membawa sebuah bungkusan putih dengan kotak makanan di dalamnya.

“Syukuran ulang tahun pernikahan Bapak, Pak.” Terang lelaki muda itu sambil tersenyum, kemudian meminta ijin pamit. Seiring dengan pulangnya lelaki tersebut, merekahlah senyum Imam.

“Alhamdulillah.. Bu!!”
Tuban, 14 Oktober 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s