Setia

Standard

Kalau kamu setia sama Gusti Allah, maka akan diberi kelimpahan – kelimpahan dalam hidupmu.

– Cak Nun

Lagi – lagi, jiwa yang gelisah dan tersesat ini terganggu. Ada begitu banyak petunjuk, yang terbaca. Tapi,
Sebegini sulitkah untuk menjadi setia?

Advertisements
Standard

Maka bersamai aku

Dalam perjalanan yang kita tak tahu dimana ujungnya

Dan

Sesekali mari menepi

Mencari Indomaret terdekat

Atau masjid, untuk melabur penat

Menjadi Asing

Standard

Dunia itu bising

Keramaian

Kesibukan

Gelak tawa

Hingar bingar

Terus menerus

Tak berjeda

Terus menerus

Hingga lupa

Lupa akan tujuan utama

Yang hening

Senyap

Tanpa terlelap

Pada rintih

Do’a do’a yang khusyu’

Hingga kemudian, terasing.

23.39

Standard

Sejatinya Tuhan telah menciptakan berbagai analogi dalam hidup

Dan malam ini, kusadari

Gelap mencipta mata yang terbuka lebar

     Mencari – cari cahaya.

Malam mencipta waktu yang intim

     Untuk bercumbu dengan ide dan pikiran yang luar biasa

Dan ijinkan hamba mengulangi

     Gelap mencipta mata yang terbuka lebar

Mencari – cari cahaya.

Anakku udah gede..

Standard

Malam ini, baru saja, Afiqa minta tidur sendiri. Meski dengan perjuangan, tentu saja.. Glibuk sana, glibuk sini. Duduk, tengkurep, menatapku, tersenyum.

Bisa saja kutidurkan dalam gendongan, tapi melihat gerak badannya saat kugendong, artinya dia mau ke kasur. Kubiarkan, dia mengeksplor kemampuannya.

Dan dia yang sedari tadi gelisah, akhirnya memejamkan mata. Tenang..
Ah nduk,

Gerimis hati ini. Saat aku begitu terpaku pada kehilanganku akan masa menyusui kita, Tuhan menunjukkan ku, bahwa bayi kecilku semakin tumbuh dewasa..

Mampu mengendalikan diri untuk tak menangis meraung sebelum tidur..

Mampu mandiri berjuang sendiri menjemput mimpi.

Ah..

Anak kesayanganku udah gede.. :’)

Jeda

Standard

Tanggal 20 Maret 2017. Sebuah tanggal yang aku harap tak pernah hadir di hidupku. Tanggal dimana Afiqa menolak menyusu, hingga sekarang.

Sedih.

Cuma itu yang bisa aku rasakan.

Dan sudah tiga hari itu berlangsung.

Tiga hari aku mengemis memintanya.

Tiga hari aku merayunya.

Tiga hari aku merindukannya mencariku.

Tiga hari aku membayangkan wajahnya saat menyusu.

Tiga hari aku berdoa agar dia kembali lagi.

Tiga hari aku menangis.

Tiga hari aku mengeluh pada suamiku.

Tiga hari aku memutar otak agar kebutuhannya tetap tercukupi.

Tiga hari aku nonton video kita yang becanda saat menyusu.

Tiga hari aku berharap dia mendadak melahapku.

Tiga hari aku berharap..
Semua ini hanya jeda.

Bukan titik.

Bukan. 

Karena perpisahan tanpa pamit itu kurang ajar. Tak ada pembicaraan, tak ada salam. Dan sungguh,

Selalu ada hati yang kehilangan. Hati yang merindu.

Masa Sepi

Standard

Bisa jadi akan datang  masa itu, masa menjadi orang tua yang kesepian. Menjadi ayah yang kesepian, Ibu yang kesepian. Yang tak dibersamai anak. Yang dalam hening merindu masa dulu. Yang dalam sepi mengenang tingkah anak yang lucu. Anak yang lucu, hingga dunia mengubahnya menjadi anak – anak sibuk. Anak – anak yang pergi jauh. Anak – anak yang dingin. Anak – anak yang tak peduli.

Bisa jadi akan datang masa itu, ketika sebaris tanya hadir,

“Mengapa kini hamba merasa kesepian, di saat seribu anak hamba masih ada?”

Andai anak – anak ini tau, kehadirannya akan dinantikan kapan pun. Sekedar ucapan “Bagaimana kabarnya?” bisa jadi pula menjadi pertanyaan yang dirindukan. Obrolan panjang, diskusi, curhatan tak terarah pun kelak akan menjadi obat.

Ya.

Sedikit perhatian bisa jadi adalah penawar untuk dia yang merasa sepi.

***

Malang, 12 Maret 2017

Mencoba memahami dari sudut pandang sebagai anak, dengan hati yang sesak dan sedikit air mata.