Anakku udah gede..

Standard

Malam ini, baru saja, Afiqa minta tidur sendiri. Meski dengan perjuangan, tentu saja.. Glibuk sana, glibuk sini. Duduk, tengkurep, menatapku, tersenyum.

Bisa saja kutidurkan dalam gendongan, tapi melihat gerak badannya saat kugendong, artinya dia mau ke kasur. Kubiarkan, dia mengeksplor kemampuannya.

Dan dia yang sedari tadi gelisah, akhirnya memejamkan mata. Tenang..
Ah nduk,

Gerimis hati ini. Saat aku begitu terpaku pada kehilanganku akan masa menyusui kita, Tuhan menunjukkan ku, bahwa bayi kecilku semakin tumbuh dewasa..

Mampu mengendalikan diri untuk tak menangis meraung sebelum tidur..

Mampu mandiri berjuang sendiri menjemput mimpi.

Ah..

Anak kesayanganku udah gede.. :’)

Jeda

Standard

Tanggal 20 Maret 2017. Sebuah tanggal yang aku harap tak pernah hadir di hidupku. Tanggal dimana Afiqa menolak menyusu, hingga sekarang.

Sedih.

Cuma itu yang bisa aku rasakan.

Dan sudah tiga hari itu berlangsung.

Tiga hari aku mengemis memintanya.

Tiga hari aku merayunya.

Tiga hari aku merindukannya mencariku.

Tiga hari aku membayangkan wajahnya saat menyusu.

Tiga hari aku berdoa agar dia kembali lagi.

Tiga hari aku menangis.

Tiga hari aku mengeluh pada suamiku.

Tiga hari aku memutar otak agar kebutuhannya tetap tercukupi.

Tiga hari aku nonton video kita yang becanda saat menyusu.

Tiga hari aku berharap dia mendadak melahapku.

Tiga hari aku berharap..
Semua ini hanya jeda.

Bukan titik.

Bukan. 

Karena perpisahan tanpa pamit itu kurang ajar. Tak ada pembicaraan, tak ada salam. Dan sungguh,

Selalu ada hati yang kehilangan. Hati yang merindu.

Masa Sepi

Standard

Bisa jadi akan datang  masa itu, masa menjadi orang tua yang kesepian. Menjadi ayah yang kesepian, Ibu yang kesepian. Yang tak dibersamai anak. Yang dalam hening merindu masa dulu. Yang dalam sepi mengenang tingkah anak yang lucu. Anak yang lucu, hingga dunia mengubahnya menjadi anak – anak sibuk. Anak – anak yang pergi jauh. Anak – anak yang dingin. Anak – anak yang tak peduli.

Bisa jadi akan datang masa itu, ketika sebaris tanya hadir,

“Mengapa kini hamba merasa kesepian, di saat seribu anak hamba masih ada?”

Andai anak – anak ini tau, kehadirannya akan dinantikan kapan pun. Sekedar ucapan “Bagaimana kabarnya?” bisa jadi pula menjadi pertanyaan yang dirindukan. Obrolan panjang, diskusi, curhatan tak terarah pun kelak akan menjadi obat.

Ya.

Sedikit perhatian bisa jadi adalah penawar untuk dia yang merasa sepi.

***

Malang, 12 Maret 2017

Mencoba memahami dari sudut pandang sebagai anak, dengan hati yang sesak dan sedikit air mata.

Gadis 10 Desember kami.

Standard

Ini tentang gadis 10 Desember kami, yang menggenapi setahunnya kemarin lalu.

Afiqa.

Setahun Afiqa diawali dengan perjalanan panjang. Macet, asap, senja, adzan, senyuman, klakson, selimut, Oasis, hingga dingin yang menyeruak. Dan dia..

Selalu bekerja sama.

Awal hari penambahan umurnya pun tak terlalu istimewa. Ditemani kedua orang tua yang sempat lupa, dan begitu letih untuk bermain bersama. Dan dia..

Selalu mampu memahami.

Kesehariannya dilalui dengan sedikit makan, pelukan dan dekapan. Berbagi perhatian pada banyak hal. Dan dia..

Selalu mengerti situasi.

Dan 10 Desembernya diakhiri dengan istirahat, letih karena terlalu banyak tertawa. Namun, hanya dengan seorang ibu di sampingnya.

Tidak ada yang istimewa. Tidak ada pesta. Tidak ada lilin untuk ditiup. Tidak ada momen indah untuk diabadikan.

Tapi, kenapa harus mencipta keistimewaan?

Bila istimewa adalah Afiqa sendiri.

Sebuah Cerpen: Menuju Makan Malam

Standard

Imam baru saja pulang lepas sholat isya’ berjama’ah. Dan tak biasanya Lastri, istrinya, menyambut dengan wajah sendu.

“Sudah kuperiksa, dapur tidak ada apa-apa. Makan apa anak kita malam ini?”

Imam menghela nafas, tersenyum. Seharian sudah mencoba ia menemukan rizki, sesuatu yang bisa dihidangkan pada keluarganya malam ini, namun Tuhan masih belum memberi. Bahkan untuk hutangan saja tak satupun dia dapatkan.

“Tenang, Bu.. Pasti nanti ada rezeki. Allah sudah jamin.”

Lastri mendengus. Lagi – lagi bawa nama Allah, rutuknya dalam hati. Hati yang sekarang sedang gelisah, melihat jam makan malam makin mendekat. Sudah hampir satu jam Lastri mendongeng, mengalihkan perhatian dua buah hatinya yang masih kecil itu dari rasa lapar.

“Tenang gimana, Yah? Aku kasihan sama mereka!” Balas Lastri dengan suara bergetar.

Imam menghela nafas lagi, kali ini lebih dalam. Rencana untuk meminta maaf pada anak – anaknya pun semakin kuat. Sedang Lastri terlihat kesal, kemudian masuk kamar dengan membanting pelan pintunya.

Tak lama setelah itu, selang seperempat jam, terdengar ketukan pada pintu rumah mereka. Dengan segera Imam membukanya. Seorang remaja lelaki berdiri tepat di depannya, membawa sebuah bungkusan putih dengan kotak makanan di dalamnya.

“Syukuran ulang tahun pernikahan Bapak, Pak.” Terang lelaki muda itu sambil tersenyum, kemudian meminta ijin pamit. Seiring dengan pulangnya lelaki tersebut, merekahlah senyum Imam.

“Alhamdulillah.. Bu!!”
Tuban, 14 Oktober 2016.