Masa Sepi

Standard

Bisa jadi akan datang  masa itu, masa menjadi orang tua yang kesepian. Menjadi ayah yang kesepian, Ibu yang kesepian. Yang tak dibersamai anak. Yang dalam hening merindu masa dulu. Yang dalam sepi mengenang tingkah anak yang lucu. Anak yang lucu, hingga dunia mengubahnya menjadi anak – anak sibuk. Anak – anak yang pergi jauh. Anak – anak yang dingin. Anak – anak yang tak peduli.

Bisa jadi akan datang masa itu, ketika sebaris tanya hadir,

“Mengapa kini hamba merasa kesepian, di saat seribu anak hamba masih ada?”

Andai anak – anak ini tau, kehadirannya akan dinantikan kapan pun. Sekedar ucapan “Bagaimana kabarnya?” bisa jadi pula menjadi pertanyaan yang dirindukan. Obrolan panjang, diskusi, curhatan tak terarah pun kelak akan menjadi obat.

Ya.

Sedikit perhatian bisa jadi adalah penawar untuk dia yang merasa sepi.

***

Malang, 12 Maret 2017

Mencoba memahami dari sudut pandang sebagai anak, dengan hati yang sesak dan sedikit air mata.

Gadis 10 Desember kami.

Standard

Ini tentang gadis 10 Desember kami, yang menggenapi setahunnya kemarin lalu.

Afiqa.

Setahun Afiqa diawali dengan perjalanan panjang. Macet, asap, senja, adzan, senyuman, klakson, selimut, Oasis, hingga dingin yang menyeruak. Dan dia..

Selalu bekerja sama.

Awal hari penambahan umurnya pun tak terlalu istimewa. Ditemani kedua orang tua yang sempat lupa, dan begitu letih untuk bermain bersama. Dan dia..

Selalu mampu memahami.

Kesehariannya dilalui dengan sedikit makan, pelukan dan dekapan. Berbagi perhatian pada banyak hal. Dan dia..

Selalu mengerti situasi.

Dan 10 Desembernya diakhiri dengan istirahat, letih karena terlalu banyak tertawa. Namun, hanya dengan seorang ibu di sampingnya.

Tidak ada yang istimewa. Tidak ada pesta. Tidak ada lilin untuk ditiup. Tidak ada momen indah untuk diabadikan.

Tapi, kenapa harus mencipta keistimewaan?

Bila istimewa adalah Afiqa sendiri.

Sebuah Cerpen: Menuju Makan Malam

Standard

Imam baru saja pulang lepas sholat isya’ berjama’ah. Dan tak biasanya Lastri, istrinya, menyambut dengan wajah sendu.

“Sudah kuperiksa, dapur tidak ada apa-apa. Makan apa anak kita malam ini?”

Imam menghela nafas, tersenyum. Seharian sudah mencoba ia menemukan rizki, sesuatu yang bisa dihidangkan pada keluarganya malam ini, namun Tuhan masih belum memberi. Bahkan untuk hutangan saja tak satupun dia dapatkan.

“Tenang, Bu.. Pasti nanti ada rezeki. Allah sudah jamin.”

Lastri mendengus. Lagi – lagi bawa nama Allah, rutuknya dalam hati. Hati yang sekarang sedang gelisah, melihat jam makan malam makin mendekat. Sudah hampir satu jam Lastri mendongeng, mengalihkan perhatian dua buah hatinya yang masih kecil itu dari rasa lapar.

“Tenang gimana, Yah? Aku kasihan sama mereka!” Balas Lastri dengan suara bergetar.

Imam menghela nafas lagi, kali ini lebih dalam. Rencana untuk meminta maaf pada anak – anaknya pun semakin kuat. Sedang Lastri terlihat kesal, kemudian masuk kamar dengan membanting pelan pintunya.

Tak lama setelah itu, selang seperempat jam, terdengar ketukan pada pintu rumah mereka. Dengan segera Imam membukanya. Seorang remaja lelaki berdiri tepat di depannya, membawa sebuah bungkusan putih dengan kotak makanan di dalamnya.

“Syukuran ulang tahun pernikahan Bapak, Pak.” Terang lelaki muda itu sambil tersenyum, kemudian meminta ijin pamit. Seiring dengan pulangnya lelaki tersebut, merekahlah senyum Imam.

“Alhamdulillah.. Bu!!”
Tuban, 14 Oktober 2016.

Sebuah Cerpen: Menjelang Idul Fitri

Standard

Seperti tahun yang sudah – sudah, Ahmad mendekam di kamarnya setelah Maghrib. Seperti tahun yang sudah-sudah, dia berbaring di tempat tidurnya. Dengan telinga yang dibuntu oleh sepasang earphone, namun matanya terlihat kosong. Sayup terdengar suara musik keluar dari earphonenya. Volume maksimal barang kali. Sedang di luar sana, takbir bersahutan menyambut Idul Fitri besok. Menciptakan suasana yang syahdu.

Seperti tahun yang sudah-sudah bagi Ahmad, namun sejatinya 3 tahun yang lalu tidak begitu. Seperti kebanyakan orang, Ahmad akan berkumpul dengan para sanak keluarganya di malam takbir. Mematut sarung baru mungkin, atau ikut serta meramaikan kampung dengan petasan. Seperti kebanyakan, hingga orang tuanya tak mampu lagi mengirim ongkos pulang dari Jawa menuju Sulawesi. Hanya ucapan rindu, do’a agar selalu senantiasa terlindung dan beberapa foto.

Ahmad membalikkan badannya, kali ini menghadap tembok. Dipejamkan matanya, disertai helaan nafas yang panjang. Sebuah air mata menetes, merayap menuju hidungnya. Ah sayang, kali ini aku tak tahu apa yang ada di batinnya.

Musik di earphonenya masih terdengar sayup.

Tuban, 13 Oktober 2016.

One Day One Juz

Standard

Aku tergabung dalam grup One Day One Juz atau yang sering disingkat ODOJ. Sebuah aksi setor atau tilawah (membaca Al Qur’an) satu juz per hari. Awal gabung prestasiku bagus sekali. Makin lama.. 

Dulu sempat bilang suami, kalau mau mundur. Kenapa? Karena keteteran. Apalagi pas awal – awal punya anak. Hyuh. Tapi dicegah suami, katanya gapapa keteteran, diperbaiki semangatnya pelan – pelan. Takutnya mundur malah ga keinget tilawah sama sekali. Bener juga sih.

Tapi tetep, sampai sekarang aku masih nggak sreg sama program ODOJ ini. Menurutku, kayak jadi ditarget. Dikejar setoran. Nggak ada ketulusan di sana. Itu bagiku sih. Soalnya dulu sebelum ada ODOJ, aku pernah baca Al Qur’an dan terjemahannya. Pelan – pelan tapi rutin. Nggak ditarget, dan rasanya nikmat banget.

Kenapa nikmat? Soalnya dibaca plus terjemahannya. Jadi, pas baca, trus liat terjemahannya.. Pas bagian siksa dan adzab, langsung galau. Pas dapet bagian kasih sayangNya, hati rasanyaaa hangaaat. Semuanya serba masuk ke kalbu #ceilaah. Jadi diresapi.

Kalau setor? Hmmmm. Saya pribadi siihhh jadi gak dapet maknanya. Kayak baca Pancasila jadinya. Cuma baca. Hmm. Eh tapi kalau dipikir – pikir, mungkin ini salah saya sih ya. Harusnya diluangkan waktu lebih baaanyak untuk ODOJ ini, biar nggak asal baca, iya kan?

Karena, yang paling penting adalah paham maknanya dan mampu mengamalkannya. Nggak asal tamat Al Qur’an dalam 30 hari.

Dan saya masih cetek!